Wakatobi Update hadir sebagai sumber informasi terpercaya yang menyajikan berita terkini, edukasi, dan perkembangan daerah bagi masyarakat di empat gugus kepulauan Wakatobi: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Wakatobi Update berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, cepat, dan terpercaya kepada masyarakat di seluruh wilayah Wakatobi: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Wakatobi Update adalah media informasi yang berkomitmen memberikan berita dan update terpercaya, menjangkau seluruh masyarakat di wilayah Wakatobi: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Sebagai portal informasi, Wakatobi Update berkomitmen menghadirkan berita yang cepat, akurat, dan terpercaya untuk masyarakat di seluruh wilayah Wakatobi, meliputi Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. 

Search

Warga Soppeng–Barru Lestarikan Tradisi Mappacci Jelang Akad Nikah di Wakatobi

  • Share this:
Warga Soppeng–Barru Lestarikan Tradisi Mappacci Jelang Akad Nikah di Wakatobi

Wakatobi — Nuansa sakral dan kental akan nilai budaya mewarnai prosesi adat Mappacci atau Akkorongtigi yang digelar oleh Muhammad Shadiq, S.T., warga asal Soppeng–Barru, menjelang akad nikahnya dengan Dewi Asriani, A.Md.Keb., di Kabupaten Wakatobi.

Ritual yang merupakan bagian dari tradisi Bugis-Makassar tersebut menjadi rangkaian penting sebelum puncak pernikahan. Prosesi diawali dengan appassili atau mandi besar sebagai simbol penyucian diri, dilanjutkan dengan appatamma’ (khatam Al-Qur’an), sebelum memasuki inti acara Mappacci/Akkorongtigi.

Pelaksanaan Akkorongtigi berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri oleh keluarga besar serta kerabat kedua mempelai dari berbagai daerah, termasuk Soppeng, Barru, Makassar, dan Kota Baubau. Dalam prosesi ini, daun pacar (*pacci*) disematkan pada telapak tangan calon pengantin sebagai simbol kebersihan hati, harapan baik, serta doa restu untuk kehidupan rumah tangga yang harmonis dan diberkahi.

Lebih dari sekadar tradisi, Mappacci dimaknai sebagai refleksi spiritual bagi kedua calon mempelai sebelum memasuki kehidupan baru. Nilai-nilai kesucian, kebersamaan, serta restu keluarga menjadi esensi utama dalam setiap tahapan prosesi tersebut.

Salah satu warga Sulawesi Selatan di Wakatobi yang turut hadir, Asbar Bilu, menegaskan bahwa tradisi ini memiliki makna mendalam, khususnya bagi masyarakat perantauan.

“Ini bukan sekadar seremoni adat, tetapi menjadi doa bersama agar kedua mempelai mampu membangun rumah tangga yang dilandasi tanggung jawab, saling menghargai, serta berpegang pada nilai agama dan budaya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pelestarian tradisi Akkorongtigi menjadi penting sebagai identitas budaya, sekaligus mempererat tali silaturahmi di tengah kehidupan masyarakat perantauan.

Dengan terselenggaranya prosesi tersebut, diharapkan Muhammad Shadiq, S.T., dan Dewi Asriani, A.Md.Keb., dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.

Admin Dou

Admin Dou

Editor Wakatobi Update

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Wakatobi Update menggunakan cookie untuk memastikan kenyamanan pengguna serta meningkatkan kualitas layanan dan konten. Dengan terus mengakses situs ini, Anda dianggap telah menyetujui kebijakan cookie kami. Cookie Policy