SLEMAN, WAKATOBI UPDATE — Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) resmi bertransformasi menjadi Politeknik Agraria STPN, menandai babak baru dalam pengembangan pendidikan tinggi vokasi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang di Indonesia.
Peresmian dilakukan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid di Pendopo Sasana Widya Bhumi Politeknik Agraria STPN, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Perubahan kelembagaan tersebut ditandai dengan pemukulan gong oleh Nusron, didampingi Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN Ossy Dermawan, Sekretaris Jenderal Kementerian ATR/BPN Dalu Agung Darmawan, Kepala BPSDM Agustyarsyah, dan Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad.
Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian serta penyerahan bendera Politeknik Agraria STPN dari Menteri ATR/Kepala BPN kepada Plt. Direktur.
“Politeknik Agraria STPN merupakan satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang bergerak secara khusus mengembangkan pendidikan bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” ujar Nusron.
Perkuat Pendidikan Vokasi Pertanahan
Nusron mengatakan STPN selama puluhan tahun telah melahirkan ribuan tenaga profesional yang kemudian mengabdi di Kementerian ATR/BPN maupun berbagai bidang lainnya.
Menurutnya, kontribusi tersebut menjadi alasan penting untuk terus memperkuat kelembagaan dan kualitas pendidikan di Politeknik Agraria STPN.
Transformasi tersebut mencakup perubahan bentuk kelembagaan, penataan organisasi, pengembangan kurikulum vokasi, pembukaan program studi baru, hingga penyelenggaraan pendidikan.
“Proses transformasi yang selama beberapa tahun terakhir kita perjuangkan, saat ini sudah mencapai tahap akhir,” kata Nusron.
Meski peresmian telah dilakukan, pembahasan dan penetapan statuta Politeknik Agraria STPN masih berlangsung di Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Kementerian ATR/BPN menyatakan proses tersebut akan terus dikawal hingga selesai.
Tiga Program Studi Baru
Transformasi STPN juga ditandai dengan hadirnya tiga program studi baru yang mulai diselenggarakan pada tahun akademik 2025/2026.
Ketiga program studi tersebut telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), yakni:
- Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan
- Sarjana Terapan Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan
- Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah
Nusron mengatakan pembukaan program studi baru tersebut merupakan bagian dari upaya membuat pendidikan pertanahan semakin relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Transformasi ini harus kita lihat sebagai proses untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” ujarnya.
Ia berharap kurikulum dan sistem pembelajaran di Politeknik Agraria STPN terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Kampus tersebut juga diharapkan mampu menjadi pusat lahirnya inovasi dan solusi untuk berbagai persoalan agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Relevan bagi Daerah Kepulauan
Penguatan sumber daya manusia di bidang pertanahan dan tata ruang memiliki arti penting bagi daerah kepulauan seperti Wakatobi.
Pengelolaan ruang di wilayah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan daratan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kawasan pesisir, permukiman, kawasan ekonomi, pariwisata, serta keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, kebutuhan terhadap tenaga profesional yang mampu melakukan pemetaan, penataan ruang, pengelolaan data pertanahan, serta memahami karakteristik wilayah menjadi semakin penting seiring berkembangnya pembangunan daerah.
Pendidikan vokasi yang menggabungkan kemampuan teknis, teknologi, dan pemahaman terhadap persoalan agraria diharapkan dapat melahirkan SDM yang mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Babak Baru Pendidikan Agraria
Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad mengatakan perubahan bentuk kelembagaan dari STPN menjadi Politeknik Agraria STPN merupakan hasil perjuangan panjang seluruh civitas academica.
Pembukaan tiga program studi baru menjadi bagian dari komitmen kampus dalam memperkuat pengembangan keilmuan dan kompetensi di bidang agraria, pertanahan, serta tata ruang.
“Peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana ini menjadi momentum penting yang menandai babak baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi,” ujar Sri Yanti.
Ia berharap Politeknik Agraria STPN semakin mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan profesional untuk menjawab berbagai tantangan pertanahan dan tata ruang di Indonesia.
Dalam acara tersebut, turut diberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM Heri Mulianto sebagai pencipta Hymne Politeknik Agraria STPN.
Peresmian tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kepala Kantor Wilayah BPN dari berbagai provinsi di Indonesia beserta jajaran.
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *




